Tuhanku..
Aku berdoa untuk seorang pria yang akan menjadi bagian dari hidupku..
Seseorang yang sungguh mencintaiMu lebih dari segala sesuatu..

Seorang pria yang akan meletakkan aku pada posisi keempat di hatinya setelah Engkau, Nabi Muhammad, dan orang tuanya..
Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMu..

Wajah tampan dan daya tarik fisik tidaklah penting..
Yang penting adalah sebuah hati yang sungguh mencintai dan dekat dengan Engkau..
Dan berusaha menjadikan sifat-sifatMu ada pada dirinya..
Dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup sehingga hidupnya tidaklah sia-sia..

Seseorang yang memiliki hati yang bijak tidak hanya otak yang cerdas..
Seorang pria yang tidak hanya mencintaiku tapi juga menghormatiku..
Seorang pria yang tidak hanya memujaku tetapi juga dapat menasehatiku ketika aku berbuat salah..

Seseorang yang mencintaiku bukan karena kecantikanku tapi karena hatiku..
Seorang pria yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam setiap waktu dan situasi..
Seseorang yang dapat membuatku merasa sebagai seorang wanita ketika aku di sisinya..

Tuhanku..
Aku tidak meminta seseorang yang sempurna namun aku meminta seseorang yang tidak sempurna,
Sehingga aku dapat membuatnya sempurna di mataMu..
Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya..
Seorang pria yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya..
Seseorang yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi kesedihannya..
Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna..

Tuhanku..
Aku juga meminta..
Buatlah aku menjadi wanita yang dapat membuatnya bangga..
Berikan aku hati yang sungguh mencintaiMu sehingga aku dapat mencintainya dengan sekedar cintaku..

Berikanlah sifat yan lembut sehingga kecantikanku datang dariMu..
Berikanlah aku tangan sehingga aku dapat melakukan banyak hal baik dan bukan hal buruk dalam dirinya..
Berikanlah aku penglihatan sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dan bukan hal buruk dalam dirinya..
Berikanlah aku lisan yang penuh dengan kata-kata bijaksana,
mampu memberikan semangat serta mendukungnya setiap saat dan tersenyum untuk dirinya setiap pagi..

Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakan:
“Betapa Maha Besarnya Engkau karena telah memberikan kepadaku pasangan yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna.”

Bahan:

  • 250 g daging ikan tenggiri, haluskan
  • 1/2 sdt garam
  • 2 sdm bawang goreng, remas-remas
  • 1/4 sdt merica bubuk
  • 1/2 btr telur
  • 25 g tepung kanji

Isi:

  • Vegetable mix, tumis dengan mentega dan 1/4 sdt merica

Cara Membuat:

  1. Blender ikan, garam, bawang goreng, merica dan telur.
  2. Masukkan adonan ke baskom, tambahkan tepung kanji sambil dibanting-banting hingga kalis.
  3. Kepal-kepal dan isi dengan sayuran lalu angkat adonan yang keluar antara jari telunjuk dan ibu jari dengan sendok sambil dibulatkan.
  4. Rebus dalam air mendidih hingga terapung. Dapat diolah dalam hidangan cap cay.

Untuk 5 porsi

Nilai gizi per porsi:
Energi: 122 Kkal
Protein: 16,7 g
Lemak: 1,5 g
Karbohidrat: 9,9 g

Sumber : Tabloid-nakita.com

Disampaikan pada Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia,
Kamis, 21 November 2007
Oleh
Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan
Departemen Kelautan dan Perikanan
Kekayaan sumberdaya laut Indonesia sangat berlimpah, menyusul
dua per tiga wilayah Indonesia terdiri dari laut, potensi perikanan sebesar
6,26 juta ton/tahun dengan keragaman jenis ikan namun belum
seluruhnya dimanfaatkan secara optimal. Pada tahun 2005, total produksi
perikanan 4,71 juta ton, dimana 75 % (3,5 juta ton) berasal dari
tangkapan laut. Apabila dilihat dari tingkat pemanfaatan, terutama untuk
ikan-ikan non ekonomis belum optimal. Hal ini disebabkan
pemanfaatannya masih terbatas dalam bentuk olahan tradisional dan
konsumsi segar. Akibatnya ikan-ikan tidak ditangani dengan baik dikapal,
sehingga ikan yang didaratkan bermutu rendah (20–30%), sehingga
berdampak pada tingginya tingkat kehilangan (losses) sekitar 30-40%.
Lebih jauh lagi, ekspor hasil perikanan Indonesia hingga saat ini masih
didominasi oleh ikan dalam bentuk gelondongan dan belum diolah.
Sebagai konsekuensinya, usaha pengolahan produk hasil perikanan di
Indonesia belum bergairah.
Dari total produksi tangkapan laut, sebesar 57,05 % dimanfaatkan
dalam bentuk basah, sebesar 30,19% bentuk olahan tradisional dan
sebesar 10,90 % bentuk olahan modern dan olahan lainnya 1,86%.
Sedangkan dari ekspor tahun 2005 sebesar 857.782 ton, 80% diantaranya
didominasi produk olahan modern sedangkan produk olahan tradisional
hanya sekitar 6% saja.
Disisi lain ikan hasil tangkapan samping (HTS/by catch) pukat
udang dan tuna serta sisa olahan (by product) industri perikanan belum
pula dimanfaatkan secara optimal sehingga ikan tangkapan samping
khususnya ikan-ikan non ekonomis/sisa hasil industri yang tidak
2
Makalah Seminar Hari Pangan Sedunia Tahun 2007, Dirjen P2HP-DKP
termanfaatkan dibuang ke laut atau ditimbun dengan tanah, dengan
demikian terjadi kehilangan nilai jual ikan.
Sektor perikanan memegang peranan penting dalam
perekonomian nasional terutama dalam penyediaan lapangan kerja (padat
karya), sumber pendapatan bagi nelayan, sumber protein hewani dan
sumber devisa bagi negara.
Salah satu usaha untuk meningkatkan nilai dan mengoptimalkan
pemanfaatan produksi hasil tangkapan laut adalah dengan
pengembangan produk bernilai tambah, baik olahan tradisional maupun
modern. Namun produk bernilai tambah yang diproduksi di Indonesia
masih dari ikan ekonomis seperti tuna/udang kaleng, tuna steak, loin dan
lain sebagainya yang memiliki nilai jual meski tanpa dilakukan proses
lanjutan. Sedangkan apabila ingin merubah nilai jual ikan non ekonomis
maka salah satu cara yang bisa ditempuh adalah melalui teknologi produk
perikanan (pengembangan produk hasil perikanan) agar lebih bisa
diterima oleh masyarakat dan sesuai dengan selera pasar dalam rangka
memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, aman, sehat melalui asupan
gizi/vitamin/protein dari produk hasil perikanan dan ketahanan pangan.
Isu Strategis Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan
Yang menjadi isu strategis dalam pengembangan usaha pengolahan dan
pemasaran hasil perikanan sebagai berikut :
a. Lemahnya jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan (quality
assurance dan food safety)
Pihak pembeli dari negara lain menuntut kepada Indonesia (para
eksportir) agar produk yang dihasilkan memenuhi ketentuanketentuan
sbb : penerapan HACCP, Bioterrorism Act, sanitasi
kekerangan, cemaran logam berat dan histamin pada tuna dan
certificate eco labelling selain health certificate. Hal ini disebabkan
oleh lemahnya jaminan dan keamanan hasil perikanan (quality
assurance dan food safety) di Indonesia.
b. Tingginya tingkat kehilangan (losses) mencapai sekitar 27,8%
3
Makalah Seminar Hari Pangan Sedunia Tahun 2007, Dirjen P2HP-DKP
Untuk mendapatkan hasil/produk yang bermutu baik, maka sangat
diperlukan bahan baku yang bermutu baik pula. Hal ini menjadi
tuntutan dan syarat mutlak bagi konsumen. Apabila hal ini tidak
dipenuhi, maka yang terjadi adalah banyaknya banyaknya terjadi
tingkat kehilangan (losses). Penyebab lain adalah rendahnya
pengetahuan nelayan, pengolah, petugas TPI/PPI mengenai cara
penanganan dan pengolahan yang baik (Good Manufacturing
Practice/GMP).
c. Kurangnya intensitas promosi dan rendahnya partisipasi stakeholders
Produk perikanan yang bernilai tambah (value added products) di
masyarakat belum populer, hal ini disebabkan oleh masih kurangnya
intensitas promosi serta rendahnya partisipasi stakeholders
(khususnya produsen produk perikanan) dalam mengembangkan
program promosi.
d. Terbatasnya sarana penanganan ikan
Terbatasnya sarana penangan ikan di atas kapal, TPI/PPI, distribusi
dan UPI SKM, terbatasnya sarana pabrik es dan air bersih di TPI/PPI.
e. Kurangnya bahan baku industri
Kurangnya bahan baku industri pengolahan ini disebabkan oleh belum
adanya kerjasama antara industri penangkapan dan pengolahan
sehingga perusahaan penangkapan cenderung mengekspor ikan
dalam bentuk ikan utuh (gelondongan).
f. Bahan baku belum standar
Sebanyak 85% produksi perikanan tangkap didominasi/dihasilkan oleh
nelayan skala kecil dan pada umumnya kurang memenuhi standar
bahan baku industri pengolahan.
g. Penggunaan Bahan Kimia Berbahaya
Maraknya bahan kimia berbahaya dalam penanganan dan
pengolahan ikan, misalnya formalin, borax, zat pewarna, CO,
antiseptik, pestisida, antibiotik (chloramphenol, Nitro Furans, OTC).
Hal ini disebabkan oleh substitusi bahan pengganti tersebut kurang
4
Makalah Seminar Hari Pangan Sedunia Tahun 2007, Dirjen P2HP-DKP
tersedia dan peredaran bahan kimia berbahaya bebas, murah dan
sangat mudah diperoleh.
h. Jenis ragam produk dan pengembangan produk bernilai tambah
belum berkembang (value added products) optimal dan belum
populer
Meskipun kajian dan hasil penelitian pemanfaatannya sudah banyak
tersedia, namun produksi secara masal belum dapat direalisasi.
Banyak kendala yang menyebabkannya, salah satu diantaranya
adalah ketersediaan sarana prasarana , mahalnya peralatan,
kurangnya teknologi serta masalah kontinuitas suplai bahan baku.
i. Rendahnya konsumsi ikan per kapita
Rendahnya konsumsi ikan per kapita disebabkan oleh belum
meratanya distribusi, suplai tidak kontinyu, masih banyak produk yang
berkualitas kurang prima di pasaran, kurangnya pengetahuan
masyarakat akan manfaat makan ikan, masih adanya budaya dan
kondisi sosial masyarakat yang kurang kondusif terhadap peningkatan
konsumsi ikan serta belum meratanya program GEMARIKAN di
seluruh daerah.
j. Informasi teknologi terbatas
Terbatasnya informasi dan teknologi penanganan dan motivasi serta
keinginan untuk meningkatkan pengetahuan/ketrampilan masih
rendah.
Meningkatkan Konsumsi Ikan Yang Sehat dan Aman
Salah satu tujuan membangun sektor Perikanan untuk terciptanya
ketahanan pangan di Indonesia adalah meningkatkan ketersediaan ikan
yang sehat dan aman. Untuk mencapai hal tersebut, maka langkah
relevan yang telah dan akan dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal
Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan adalah sebagai berikut :
a. Meningkatkan mutu dan keamanan produk perikanan;
b. Meningkatkan produktivitas pengolahan hasil perikanan yang
ramah lingkungan;
5
Makalah Seminar Hari Pangan Sedunia Tahun 2007, Dirjen P2HP-DKP
c. Meningkatkan standar bidang pengolahan dan pemasaran hasil
perikanan yang sesuai dengan ketentuan Internasional;
d. Meningkatkan kualitas kompetensi lembaga sertifikasi produk
perikanan;
e. Memperkuat jaringan dan kelembagaan pemasaran dalam negeri;
f. Mendorong peningkatan konsumsi ikan dalam negeri;
g. Memperkuat dan mengembangkan basisi pasar produk perikanan
Indonesia dan di luar negeri;
h. Meningkatkan kompetensi sumberdaya manusia di bidang
pengolahan dan pemasaran hasil perikanan.
Pentingnya Dukungan Teknologi Produk Perikanan
Memberi jaminan kepada konsumen terhadap produk yang aman
dan sehat merupakan hal utama yang menjadi perhatian sektor perikanan
dalam rangka menyiasati maraknya peredaran produk perikanan yang
kurang berkualitas dan mengandung bahan kimia berbahaya, melalui
cara-cara pengolahan yang higienis sesuai GMP (Good Manufacturing
Practices), SSOP (Standard Sanitation Operating Procedure) serta
menerapkan HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) . Tidak saja
untuk konsumen luar negeri, tetapi konsumen dalam negeri pun sudah
mulai kritis dan menuntut penyediaan makanan yang aman dan sehat.
Apapun cara yang di tempuh dalam penyediaan produk perikanan, yang
menjadi tujuan ketahanan pangan produk perikanan adalah :
1. Meningkatnya konsumsi ikan
2. Tersedianya produk yang aman, sehat dan kontinyu tersedianya.
Teknologi yang dibutuhkan dan perlu untuk dikembangkan adalah
yang mampu mengatasi banyaknya permasalahan yang dihadapi
sehingga tujuan ketersediaan pangan produk perikanan dapat terpenuhi,
melalui teknologi yang murah dan aplikatif (mudah untuk diterapkan).
Dukungan teknologi produk perikanan menjadi sangat penting
tidak hanya untuk memenuhi tuntutan pembeli/konsumen, namun juga
6
Makalah Seminar Hari Pangan Sedunia Tahun 2007, Dirjen P2HP-DKP
diperlukan dalam rangka menangkap perubahan pola konsumsi
masyarakat perkotaan yang lebih cenderung kepada makanan olahan
yang instan, cepat dan praktis, tetap mengutamakan kandungan gizi,
pemeliharaan kesehatan serta aman untuk dikonsumsi. Protein hewani
yang berasal dari ikan (ikan dan berbagai jenisnya) menjadi jawabannya,
selama ditangani dengan cara yang benar dan sesuai standar.
Peran Strategis Teknologi Pengembangan Produk Perikanan
Pertama, Meningkatkan nilai ekonomi produk olahan. Hal ini terutama
untuk produk-produk yang tidak memiliki nilai ekonomis, apabila diolah
maka berpengaruh kepada meningkatnya nilai ekonomis. Kedua,
Menumbuhkan inovasi teknologi modern. Karena dalam pengembangan
produk terkait erat dengan rekayasa produksi sehingga diperlukan
rekayasa peralatan dan sentuhan teknologi modern. Ketiga,
Meningkatkan apresiasi terhadap produk tradisional. Karena dalam
pengembangan produk, tidak hanya produk yang melalui proses teknologi
modern saja yang menjadi fokus perhatian, produk tradiosionalpun perlu
memperoleh apresiasi, sehingga memiliki daya saing dengan produk
olahan lainnya. Nilainya dapat ditingkatkan melalui berbagai cara antara
lain kebersihannya/higienisnya, pengemasannya, proses pembuatannya,
dan sebagainya. Keempat, Membentuk SDM berkualitas dan kompeten,
karena dalam menciptakan pengembangan produk diperlukan kreativitas
seseorang dalam menciptakan produk-produk yang diminati konsumen,
sehingga secara tidak langsung dapat menciptakan SDM berkualitas dan
kompeten.
Kerangka Pendekatan
A. Cold Chain Sistem
Sistem Rantai Dingin atau Cold Chain System (CCS) merupakan
salah satu program yang dapat mendorong akselerasi tercapainya produk
perikanan prima. Karena prinsip utama dalam penerapan sistem rantai
7
Makalah Seminar Hari Pangan Sedunia Tahun 2007, Dirjen P2HP-DKP
dingin adalah penanganan ikan dengan suhu dingin sekitar 00 C dilakukan
secara terus menerus tidak terputus sejak ikan ditangkap atau dipanen,
didaratkan dan didistribusikan serta dipasarkan hingga ke tangan
konsumen. Apabila penerapan sistem rantai dingin secara benar
diterapkan dengan baik serta memperhatikan sanitasi dan hygiene maka
ikan hasil tangkapan atau ikan hasil panen dapat dipastikan memiliki mutu
tinggi, aman dikonsumsi serta memenuhi kriteria produk perikanan prima.
Sistem rantai dingin sudah dikembangkan sejak dulu walaupun
sifatnya masih parsial dan belum dilakukan secara sistematis dari hulu
sampai hilir. Pada awalnya pengembangan sistem rantai dingin dilakukan
oleh Direktorat Jenderal Perikanan Departemen Pertanian pada tahun
1990-an dengan kegiatan pemberian bantuan cool box kepada nelayan
kecil dan bimbingan teknis tentang penanganan hasil perikanan dengan
menggunakan sarana cool box tersebut. Mengingat dari sisi pendanaan
yang relative kecil sehingga tingkat keberhasilan dari kegiatan tersebut
belum dapat dirasakan manfaatnya oleh para nelayan secara nasional.
B. Pengembangan Sentra
Sentra merupakan kumpulan dari beberapa produsen produk
sejenis yang berada pada posisi yang sama dalam mata rantai nilai.
Sentra merupakan pusat kegiatan UKM di kawasan/lokasi tertentu yang
menggunakan bahan baku/sarana yang sama, menghasilkan produk yang
sejenis serta memiliki prospek untuk dikembangkan menjadi klaster.
Sedangkan pengembangan sentra dilakukan karena beberapa alasan
antara lain :
• Adanya efisiensi kolektif (bahan baku, proses produksi dan
pemasaran hasil)
• Mencapai Skala Ekonomis
• Penanganan limbah lebih terkendali
• Mudah melakukan pembinaan dan monev (standar yang homogen)
• Adanya akses terhadap inovasi
8
Makalah Seminar Hari Pangan Sedunia Tahun 2007, Dirjen P2HP-DKP
• Adanya akses terhadap pengetahuan dan teknologi
• Mempermudah internalisasi pengembangan UKM Pengolaha
Dengan menumbuhkembangkan sentra-sentra pengolahan ikan di daerah,
menumbuhkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi berbasis usaha
pengolahan ikan, mengembangkan jaringan usaha mikro, kecil dan
menengah dalam suatu kawasan kemudian disinergikan dengan usaha
pengembangan produk, serta selalu menerapkan sistem rantai dingin
maka diharapkan mampu mendorong terciptanya produk yang aman dan
sehat, ketersediaan produk menjadi kontinyu sehingga tingkat konsumsi
meningkat.
Jakarta, November 2007
DIREKTUR JENDERAL PENGOLAHAN
DAN PEMASARAN HASIL PERIKANAN
Martani Huseini

oleh : Mita Wahyuni & Rosmawaty Peranginangin

Gelatin merupakan protein hasil hidrolisis kolagen tulang dan kulit yang banyak digunakan untuk berbagai keperluan industri, baik industri pangan maupun non-pangan karena memiliki sifat yang khas, yaitu dapat berubah secara reversibel dari bentuk sol ke gel, mengembang dalam air dingin, dapat membentuk film, mempengaruhi viskositas suatu bahan, dan dapat melindungi sistem koloid. Pada suhu 71°C gelatin mudah larut dalam air dan membentuk gel pada suhu 49°C. Gelatin memiliki sifat larut air sehingga dapat diaplikasikan untuk keperluan berbagai industri. Industri yang paling banyak memanfaatkan gelatin adalah industri pangan. Dalam industri pangan, gelatin digunakan sebagai pembentuk busa (whipping agent), pengikat (binder agent), penstabil (stabilizer), pembentuk gel (gelling agent), perekat (adhesive), peningkat viskositas (viscosity agent), pengemulsi (emulsifier), finning agent, crystal modifier, thickener. Dalam bidang farmasi, gelatin dapat digunakan dalam bahan pembuat kapsul, pengikat tablet dan pastilles, gelatin dressing, gelatin sponge, surgical powder, suppositories, medical research, plasma expander, dan mikroenkapsulasi. Dalam industri fotografi, gelatin digunakan sebagai pengikat bahan peka cahaya. Dalam industri kertas, gelatin digunakan sebagai sizing paper. Dengan kegunaan tersebut penggunaan gelatin sangat meluas hingga untuk produk-produk keperluan sehari-hari. Untuk kebutuhan dalam negeri, Indonesia mengimpor lebih dari 6 200 ton gelatin (tahun 2003) atau senilai US$ 6,962,237 dari berbagai negara (Perancis, Jepang, India, Brazil, Jerman, Cina, Argentina, dan Australia). Sampai saat ini bahan baku yang banyak digunakan untuk produksi industri gelatin konvensional adalah tulang dan kulit sapi dan babi. Penggunaan tulang dan kulit sapi akan menjadi masalah bagi para pemeluk agama Hindu. Bagi umat Islam dan Yahudi, bahan-bahan yang berasal dari babi adalah tidak boleh dikonsumsi. Bagi sebagian orang juga khawatir untuk mengkonsumsi limbah sapi karena adanya penyakit sapi gila (mad cow), penyakit mulut dan kuku (foot and mouth), dan Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE) sehingga perlu dipikirkan sumber gelatin lainnya yang aman dan halal untuk alternatif produksi gelatin, mengingat kebutuhan gelatin yang semakin meningkat di Indonesia. Alternatifnya adalah menggunakan tulang dan kulit ikan sebagai sumber kolagen yang sebenarnya merupakan limbah industri pengolahan ikan. Gelatin merupakan suatu turunan protein dari serat kolagen yang ada pada kulit, tulang, dan tulang rawan. Tulang dan kulit ikan keras (teleostei) merupakan limbah dari proses pengolahan hasil perikanan yang selama ini tidak dimanfaatkan dan akan menimbulkan kerugian terutama pencemaran lingkungan jika dalam jumlah besar. Penggunaan tulang ikan keras ini dapat dijadikan sebagai suatu alternatif non konvensional untuk mencari sumber gelatin selain dari kulit dan tulang sapi maupun babi. Tulang ikan mengandung kolagen. Apabila kolagen dididihkan di dalam air yang dikombinasikan dengan perlakuan asam atau basa, akan mengalami transformasi menjadi gelatin. Kandungan kolagen pada tulang ikan keras (teleostei) berkisar 15-17%, sedangkan pada tulang ikan rawan (elasmobranch) berkisar 22-24%. Laju pertumbuhan ekspor perikanan Indonesia dalam kurun waktu 1998-2000 terjadi peningkatan. Pada tahun 1998 volume ekspor sebesar 650 291 ton dan meningkat menjadi 203 155 ton pada tahun 2000. Dengan jumlah ekspor tersebut jika diasumsikan adalah dalam bentuk fillet ikan bertulang keras (tuna, kakap merah, dsb), maka akan dihasilkan limbah tulang ikan sebanyak 87 472 ton. Hal ini berdasarkan perhitungan bahwa rendemen tulang ikan adalah 12%. Jika tulang ikan basah dijadikan dalam bentuk kering maka rendemennya adalah 12.25% sehingga diperoleh tulang ikan kering sebesar 10 715 ton; dan selanjutnya akan diperoleh gelatin sejumlah 1 648 ton (bila rendemen 15.38%). Jika harga 1 gram gelatin adalah US$ 1 (tahun 2003 di USA) maka akan dihasilkan devisa sebanyak US$ 1 648 juta. Nilai ini sangat menguntungkan karena tulang ikan yang selama ini merupakan limbah non ekonomis dapat dimanfaatkan dan bernilai tinggi. Tabel 1. Penggunaan gelatin dalam industri pangan dan non pangan di dunia (1999) Jenis industri pangan Jumlah penggunaan (ton) Jenis industri non pangan Jumlah penggunaan (ton) Lebih dari 60% total produksi gelatin digunakan oleh industri pangan, seperti dessert, permen, jeli, es krim, produk-produk susu, roti, kue, dan sebagainya. Sekitar 20% produksi gelatin digunakan oleh industri fotografi dan 10% oleh industri farmasi dan kosmetik. Kondisi serupa pun terjadi di Indonesia. Seiring dengan makin berkembangnya industri pangan, farmasi dan kosmetik di Indonesia, kebutuhan akan gelatin pun makin meningkat. Namun sayangnya, meningkatnya kebutuhan gelatin di Indonesia ternyata belum banyak direspons oleh industri dalam negeri untuk memproduksinya secara komersial. Karena itu, tak heran jika untuk memenuhi kebutuhan tersebut Indonesia masih harus mengimpornya dari berbagai negara. Tabel 2. Impor gelatin Indonesia (BPS, 2004) Tahun Gelatin (kg) US$ Tabel 3. Perusahaan Pengguna Gelatin Nama Perusahaan Bidang Usaha Lokasi Proporsi bagian tubuh ikan bervariasi tergantung jenis dan ukuran ikan. Kulit dan tulang ikan dapat diperoleh dari limbah industri fillet ikan yang banyak ditemukan di berbagai tempat di Indonesia, baik untuk tujuan pemasaran lokal maupun ekspor. Selain itu, tulang dan kulit ikan dapat diperoleh dari limbah pada industri pengalengan/fillet tuna maupun ikan-ikan dasar ekonomis penting. Salah satu model yang dapat dikembangkan untuk produksi gelatin ini adalah dengan menempatkan kegiatan pengolahan gelatin ini pada industri fillet ikan yang menghasilkan limbah non ekonomis sebagai bagian produksi. Sebagai contoh, industri fillet ikan memanfaatkan limbah tulang, kulit, dan bagian tubuh lain untuk menghasilkan gelatin. Dengan model ini, industri fillet tersebut akan mendapatkan nilai komersial tambahan sekaligus mendapatkan cara untuk mengatasi limbahnya. Model lain adalah dengan mengembangkan usaha pengolahan gelatin ini di daerah sentra perikanan. Bahan baku dapat diperoleh dengan mengumpulkan limbah tulang dan kulit dari industri atau pengolahan ikan di sekitarnya. Dengan model ini akan tumbuh usaha-usaha baru pengumpulan limbah tersebut sehingga membuka usaha dan lapangan kerja baru. Di sisi lain, model ini sekaligus membantu mengatasi masalah penanganan limbah. Karena itu, ikan sebagai bahan baku gelatin memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Terlebih lagi gelatin dari ikan ini dapat menggunakan kulit dan tulang ikan yang pada dasarnya adalah limbah industri pengolahan ikan. Sumber bahan bakunya pun banyak ditemukan. Maka pengembangan produksi gelatin dengan bahan baku ikan tidak hanya mampu mengatasi masalah yang bertentangan dengan agama, tetapi juga dapat diproduksi menggunakan bahan yang cukup murah, membuka lapangan kerja baru, yang sekaligus membantu mengatasi masalah lingkungan. Sifat fisik, kimia, dan fungsional gelatin merupakan sifat yang sangat penting menentukan mutu gelatin. Sifat yang dapat dijadikan parameter dalam menentukan mutu gelatin antara lain adalah kekuatan gel, viskositas, dan rendemen. Tabel 4 di bawah ini akan memperlihatkan standar mutu gelatin menurut SNI (1995). Tabel 4. Standar mutu gelatin di Indonesia (SNI, 1995) Karakteristik Syarat Tabel 5. Sifat fisiko-kimia gelatin komersial dan gelatin ikan Parameter Gelatin tulang ikan keras (patin) Gelatin standard (SIGMA) Gelatin komersial (tulang sapi) ANALISA BIAYA PERALATAN DAN PRODUKSI 1 TON BAHAN BAKU (PER BATCH) No Jenis Sarana Jumlah Prediksi Harga (Rp, juta) Total Perkiraan Biaya : 5,2484 Milyar LAMA PRODUKSI GELATIN (KULIT IKAN TUNA) Tahap-tahap pengolahan : Degresing : 36 jam Swelling : 24 jam Pencucian : 24 jam Ekstraksi : 7 jam Evaporasi : 16 jam